Lari sedang jadi salah satu olahraga yang banyak diminati. Mulai dari berlari santai usai jam pulang kantor atau mengikuti festival lari ketika Car Free Day, olahraga satu ini terus mengundang perhatian. Selain itu, olahraga lari tidak sulit dilakukan, tidak memerlukan biaya, dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Wajar rasanya kalau olahraga satu ini jadi favorit banyak orang. Jika Anda merupakan salah satu peminat olahraga lari, artinya, Anda sedang berinvestasi jangka panjang untuk kesehatan jantung.
Nyatanya, olahraga lari mampu meningkatkan detak jantung dan fungsi pompa agar darah bisa tersalurkan ke seluruh tubuh sehingga sirkulasi darah meningkat. Nah, jika dilakukan dengan benar, olahraga lari bisa memperkuat otot jantung, mengurangi risiko pembekuan darah, sekaligus mengoptimalkan fungsi jantung.
Berdasarkan penelitian, jika Anda rutin berolahraga lari, Anda memiliki risiko lebih rendah untuk terkena penyakit jantung. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi dari Mayapada Hospital Tangerang, dr. Aron Husink, Sp.JP (K), FIHA, menjelaskan, “Lari memengaruhi kesehatan jantung karena dapat membantu mengendalikan tekanan darah, menjaga kadar kolesterol atau faktor-faktor lainnya, secara signifikan. Lari juga efektif membakar kalori dan menjaga berat badan yang sehat. Namun, kita juga perlu mengetahui cara lari yang aman dan sesuai dengan kondisi tubuh.”
Meski begitu, Anda perlu memastikan kesiapan tubuh sebelum berlari, apalagi jika Anda berencana untuk meningkatkan intensitas dan performa ketika berlari. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan yang komprehensif seperti pemeriksaan tekanan darah, denyut jantung, tinggi dan berat badan, serta indeks massa tubuh (IMT). Hal ini juga ditekankan oleh dr. Vireza Pratama, SpJP, Subsp.IKKv(K), FIHA, FAsCC, FSCAI, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi dari MayapadaHospital Jakarta Selatan. “Pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) juga penting dilakukan untuk mengetahui aktivitas listrik jantung dan membantu mendeteksi gangguan irama jantung atau gangguan lainnya. Pemeriksaan lebih lanjut seperti tes menggunakan treadmill dan berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung juga perlu dilakukan bagi orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, tekanan darah tinggi,dan diabetes melitus,” ungkapnya.
(Baca Juga: Berani Sehat! 4 Kegunaan Bawang Putih Mentah Untuk Kesehatan)
Walau terkesan mudah, nyatanya pemeriksaan fisik sebelum olahraga lari kerap diabaikan. Padahal, Anda perlu waspada terhadap gejala penyakit jantung yang bisa terjadi akibat olahraga lari. Lantas, apa saja gejala yang perlu diwaspadai? Menurut dr. Dendi Puji Wahyudi, SpJP (K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi dan Perawatan Darurat Kardiovaskular di Mayapada Hospital Bandung, “Gejala-gejala yang bisa timbul adalah sesak napas, denyut jantung tidak teratur, pusing atau pingsan setelah lari, mual-muntah, perut terasa tidak nyaman, dan rasa nyeri atau ada tekanan pada dada yang tidak hilang meski sudah berhenti berlari”.
Ketika beberapa gejala ini mulai terasa, pastikan untuk segera menghentikan olahraga lari dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, lalu konsultasi dengan dokter spesialis jantung untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat dan cepat. Keterlambatan mencari pertolongan medis pada penyakit jantung, bisa berakibat fatal bahkan berujung kematian.
Penanganan pada pasien jantung memiliki golden period atau dikenal juga dengan periode kritis 90 menit pertama sejak munculnya gejala serangan jantung. Dengan begitu, penanganan pada serangan jantung pun harus dilakukan dalam rentan waktu golden period tersebut. Waktu menjadi faktor yang sangat penting di sini.
Inilah kenapa memilih lokasi pelayanan kesehatan yang berkualitas juga perlu dipertimbangkan. Sebagai rumah sakit berstandar internasional, Mayapada Hospital memiliki layanan unggulan Cardiovascular Center sebagai pusat layanan kesehatan terpadu khusus untuk menangani penyakit jantung yang dilengkapi dokter spesialis dan subspesialis yang ahli, serta peralatan canggih dengan teknologi terkini, sekaligus layanan gawat-darurat jantung yang selalu siaga 24 jam.
Layanan Cardiac Emergency Mayapada Hospital juga telah terlatih dalam menangani kasus kegawatdaruratan jantung dengan cepat dan tepat melalui tindakan Primary PCI (Primary Percutaneous Coronary Invertention), yaitu prosedur medis untuk memulihkan aliran darah ke jantung dengan cara mengatasi sumbatan atau penyempitan pada arteri koroner, serta memiliki standar protokol Door to Balloon kurang dari 90 menit.
Selain penanganan dengan tenaga ahli berkualitas, perencanaan olahraga yang tepat tentu akan bermanfaat bagi kesehatan jantung Anda. Layanan unggulan Sport Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) di Mayapada Hospital turut hadir untuk menghubungkan Anda dengan tim dokter spesialis kedokteran olahraga dan berkolaborasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Para tenaga medis ini akan memberikan rekomendasi olahraga terbaik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.
Hal ini juga ditekankan oleh dr. Taufan Favian Reyhan, SpKO, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. “Program olahraga pada dasarnya bisa disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika pasien mengalami gangguan jantung dan masih ingin aktif olahraga, kita perlu berkoordinasi dengan dokter spesialis jantung untuk menemukan latihan-latihan yang efektif,” ungkapnya.
(Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana yang Dapat Menurunkan Berat Badan!)
Layanan SITPEC ini ditujukan bagi para penggiat olahraga hingga atlet profesional demi mendapatkan penanganan efektif, mulai dari program preventif, screening sebelum olahraga, hingga penanganan cedera dan pascacedera. Jadi, pastikan untuk selalu memerhatikan kondisi tubuh sebelum dan sesudah berolahraga.
(Penulis: Kiki Priskila)