Salah satu brand sepatu Indonesia, Brodo, baru saja mengeluarkan produk terbarunya dalam acara Proyek Lestari Brodo yang digelar pada 27 Maret lalu, di M Bloc Space, Jakarta. Acara Proyek Lestari Brodo tersebut tidak hanya memperkenalkan produk tersebut melalui talk show bersama Dian Sastrowardoyo, tapi juga diadakan lelang produk dan pameran Mitra Lestari Brodo, yang merupakan mitra dari Brodo.
Bagian dari acara tersebut juga adalah persembahan dari Sumba untuk Sumba, di mana produk sepatu dilelang, yang keseluruhan hasilnya akan disalurkan menjadi sepatu untuk anak-anak di NTT melalui Yayasan Dian Sastrowardoyo (YDS). Brodo berkolaborasi dengan YDS karena memiliki salah satu prinsip yang sejalan, yaitu pelestarian budaya. Dengan ini, Brodo berharap untuk mewujudkan visinya sebagai brand, yaitu to be a Better Footwear.
(Baca Juga: High Quality, Ini 7 Rekomendasi Brand Sepatu Lokal Terbaik)
Kolaborasi sepatu antara Brodo dengan Dian Sastrowardoyo diberi nama "Kaliku Ina". Terdiri dari tiga motif, motif pertama adalah Kakatua. Kakatua mewakili semangat persahabatan dan persatuan sebagai orang Indonesia dengan berbagai latar suku, agama, dan ras yang berbeda. Bagi orang Sumba, kakatua adalah kawanan burung yang merupakan pengajaran dari alam agar selalu bersatu.
Motif kedua adalah Ayam jantan sebagai analogi dari rasa keberadaan atau eksistensi. Disakralkan dalam kepercayaan Marapu, ayam jantan menjadi penanda bahwa hari sudah dimulai, sudah waktunya untuk kembali bekerja dan mengejar mimpi. Ayam jantan juga menyimbolkan pemimpin yang melindungi.
Mapuli adalah motif ketiga, yang merupakan simbol yang menstilasi bentuk rahim sebagai perwajahan Ibu yang paripurna. Dari rahim kita berasal, dalam rahim kita pertama merasakan bagaimana hangatnya sosok ibu dan perlindungan dari seorang ibu. Setelah kita lahir dan menua, sejatinya kita akan kembali kepada rahim (ibu pertiwi). Ibu adalah pembimbing pertama.
(Baca Juga: A Chat with Dian Sastrowardoyo: 'Mewujudkan Mimpi')
Inspirasi Kaliku Ina sendiri memang berasal dari Sumba, pulau dengan segala kekayaan budayanya. Tiga pilar YDS ditambah dengan pengetahuan dan riset yang dilakukan Brodo menghasilkan inspirasi untuk mengaplikasikan tiga motif dari kain tenun ikat Sumba yang sudah melewati fase empathize, design, dan reinterpretation sehingga berwarna terakota dan indigo. Selanjutnya, sepatu ini akan diperkenalkan ke pasar internasional.
(Penulis: Vania Ramadina)